CeritaAnakBunda.com - Cerita Parenting Bunda

I'm not a Supermom

 

Fathan-mandiriTinggal berdua dengan Fathan membuat saya terpaksa mengajarkan kemandirian padanya. Saya bilang 'terpaksa' karena memang saya tidak pernah berharap Fathan bisa mandiri sejak bayi. Kondisi yang membuatnya begitu. Saya tidak punya ART sehingga saya harus meninggalkan Fathan main sendirian karena saya melakukan pekerjaan rumah seperti mencuci, memasak, menyetrika, dll. Padahal hari Senin-Jumat, saya sudah meninggalkannya untuk bekerja dan Fathan dititip ke pengasuh. Saat pulang dari kantor, saya tidak langsung menggendong atau mengajaknya bermain. Saya menyelesaikan dulu ‘urusan’ saya, seperti makan, mandi, sholat, dll. Saya menyamankan diri saya dulu sebelum ‘memegang’ Fathan. Padahal, Fathan tampak sudah gelisah bahkan nangis karena harus menunggu  saya menyelesaikan urusan. Tampak egois, ya. Memang tampak egois, tapi saya melakukan itu bukan tanpa alasan. Saya ingin ‘menyamankan’ diri dulu agar saat ‘memegang’ Fathan, saya merasa nyaman dan Fathan pun nyaman. Jika saya memegang Fathan dalam keadaan bau, dekil, dan kelaparan, tentu tidak nyaman. Apakah Fathan akan nyaman bersama saya? Yang ada Fathan malah tambah rewel karena bayi itu pintar dan peka. Dia tahu kalau orang yang bersamanya tidak nyaman. Fathan pun akan tetap kelaparan karena ASI yang dia mau tidak keluar. Ibu menyusui khan harus rileks. (Hehehehe...pembelaan)

Sebenarnya, sering muncul rasa bersalah. Apalagi kalau Fathan udah nangis sementara saya belum menyelesaikan ‘urusan’ saya. Sampai suatu ketika, saya sedang mandi terdengar suara tangis Fathan sampai suaranya serak. Saya tidak buru-buru menyelesaikan mandi karena percuma saja. Saya selesaikan seperti biasa, lalu saya sholat. Apakah saya tenang saat sholat sambil mendengar tangisan bayi sampai suaranya serak? Tentu tidak. Hati saya tidak tenang, tapi saya tetap berusaha fokus dan khusyuk. Setelah selesai sholat dab berdoa, saya dekati Fathan. Tangisnya langsung reda begitu melihat wajah saya. Sedih rasanya melihat air mata di pipi Fathan. Saya dekap dia dengan erat sambil saya susui. Saya bisikkan kata-kata menenangkan, “Fathan, bunda nggak ke mana-mana. Jangan nangis kayak tadi, ya. Kalau Fathan tidur terus bangun Bundanya nggak ada, Fathan buka mata terus tunggu Bunda. Bunda nggak ke mana-mana. Bunda hanya ke kamar mandi dan sholat.” Terus saya bisikkan kata-kata tadi sampai dia terlelap tidur. Keesokan harinya, seperti biasanya saya harus meninggalkan Fathan untuk menyelesaikan ‘urusan’ saya. Alhamdulillah, Fathan tidak nangis. Saat saya lihat dia sedang anteng main-mainin tangannya. Saat lihat saya, dia langsung tersenyum. Waah, hati ini sampai trenyuh melihatnya. Duh, masih bayi saja sudah diminta mengerti atas kondisi ini. Padahal, banyak yang bilang kalau bayi itu jangan sampai dibiarkan menangis. Bayi itu harus segera didatangi kalau menangis agar tidak sakit hati. Duuh, bikin rasa bersalah semakin memuncak, deh. Saya sadar, saya bukanlah supermommy yang selalu dapat menyenangkan hati anaknya. Saya punya banyak keterbatasan yang memunculkan perasaan desperate.

Kemudian, saya main-main ke mommiesdaily dan menemukan artikel menarik mengenai ‘menunggu’ . Artikel itu menjelaskan bahwa tidak masalah sesekali bayi disuruh ‘menunggu’ karena itu adalah latihan yang bagus buat bayi. Bahkan  kalau malam bayi bangun dan menangis jangan langsung disusuin tapi dibiarkan menangis dulu beberapa saat. Kenapa begitu? Karena biar bayi dilatih untuk merasakan kekecewaan. Jika sejak bayi dia sudah tahu rasa ‘kecewa’ dan sedih maka di masa depan dia akan lebih kuat. Tantangan hidup di masa depan, bukankah lebih keras? Hmm…membaca artikel tersebut membesarkan hati saya. Membaca artikel itu membuat saya tidak merasa jadi ibu yang kejam. Bahkan, cara itu sudah dilakukan oleh ibu-ibu di Perancis sehingga mommy-mommy di sana sangat bisa menikmati hidupnya dengan santai. Anak-anaknya pun bisa mandiri dan mudah diatur. Subhanallah …mudah-mudahan, apa yang saya lakukan sekarang tidak berdampak negatif pada Fathan. Saya tetap bukanlah supermomm tapi saya akan berusaha memberikan yang terbaik untuk Fathan, semoga saya dimudahkan untuk bisa merawat dan mendidik Fathan. Amin.