CeritaAnakBunda.com - Cerita Parenting Bunda

Menjadi Ibu yang 'Keras Kepala'

FAthan-gigi

Saya tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa menjadi seorang ibu itu membuat saya harus ‘keras kepala’ dan berhati besi. Yah, banyak kondisi yang membuat saya keras kepala terhadap keputusan yang saya ambil. Menjadi seorang ibu membuat saya tetap ‘keukeuh’ mempertahankan keputusan saya untuk memberi ASI pada Fathan sampai usia 2 tahun. Padahal banyak sekali godaan untuk berhenti dan menyerah karena berbagai kondisi yang terjadi. Orang tua terus ‘menggoda’ saya untuk menitipkan Fathan di Sukabumi agar saya bisa bekerja dengan tenang. Akan tetapi saya tetap bertahan dengan keputusan saya bahwa Fathan harus tetap di Bandung bersama saya walaupun saya harus bekerja dan ayahnya Fathan kerja di Jakarta. Capek memang, tapi itulah risiko dari keputusan yang sudah saya ambil. Plusnya, saya tetap bisa memberikan ASI kepada Fathan, bonding antara saya dengan Fathan pun tidak terputus.

Saat Fathan mencapai usia 6 bulan dan waktunya MPASI, saya keras kepala memberikan pola makan secara BLW walaupun tidak sepenuhnya BLW. Tujuannya agar Fathan bisa lebih mandiri dan makan sendiri. Banyak tentangan mengenai cara yang saya ambil. Pengasuh pun berulang kali complain dengan cara saya. Akhirnya, saya kompromi dengan cara campuran. Sesekali memberikan bubur dan makanan padat yang dikukus. Tapi, saya tidak pernah menyaring makanan atau membuat Puree.

Saat Fathan akan berusia 9 bulan, badai itu datang. Fathan sakit panas tinggi dan harus dirawat di RS. Dokter mendiagnosis Fathan terkena Typus. What? Bayi kena Typus? Saya menerimanya sebagai bagian dari perjalanan hidup Fathan, saya tidak menyalahkan siapa-siapa. Bagi saya, Alhamdulillah Fathan bisa sehat kembali dan ceria. Sayangnya, hantaman datang lagi. Pengasuh minta berhenti tidak lama setelah Fathan keluar dari RS. What can I do? Saya berusaha meloby supaya pengasuh bisa bertahan sampai akhir tahun. Tapi, rupanya keputusannya sudah sangat bulat. Saya pun tidak bisa menahannya.

Setelah tidak adanya pengasuh, apakah saya masih akan ‘keras kepala’? Atau menyerah dengan keadaan dan menyerahkan Fathan untuk diasuh neneknya di Sukabumi dengan risiko terputusnya pemberian ASI, terputusnya ikatan antara saya dengan Fathan, terputusnya usaha saya untuk menjadikan Fathan anak yang mandiri. Wallahu ‘alam, saat ini saya masih memikirkan berbagai solusi yang bisa saya ambil dengan berbagai risikonya. Jujur, saya takut dengan keputusan yang akan saya ambil. Apakah keputusan itu benar dan baik untuk Fathan dan saya. Atau apakah keputusan itu salah dan akibatnya kurang baik. Saya menyerahkan kepada Allah Swt. Sebagai manusia, saya hanya bisa berusaha semaksimal mungkin untuk bisa melakukan yang terbaik bagi Fathan. Sisanya saya serahkan kepada Allah Swt. Semoga saya tetap menjadi ibu yang ‘keras kepala’ dan bisa memberikan yang terbaik pada Fathan. Karena hanya inilah yang bisa saya berikan pada Fathan sebagai perwujudan kasih sayang saya pada padanya.