CeritaAnakBunda.com - Cerita Parenting Bunda

Air dan Lingkungan Sehat Hak Semua Makhluk Hidup




28 tahun lalu...
“Niii… bantu ibu nyuci,”  ajak Mamah sambil membawa ember berisi cucian.
Saat itu, usia saya baru 6 tahun. Sebagai anak pertama, saya sudah terbiasa membantu pekerjaan rumah. Salah satunya mencuci. Saat itu, kami sekeluarga memanfaatkan sumber mata air untuk kebutuhan sehari-hari  seperti mencuci, memasak, mandi, dll. Tapi, kami tidak mengambil air sungai, melainkan mata air yang ada di sungai. Mamah menyebutnya ‘cinyusu’, entah apa artinya. Air di mata air cinyusu sangatlah jernih sehingga keluarga kami sering memanfaatkannya untuk memasak, mandi, mencuci, bahkan dimasak untuk diminum.  Saat itu, lingkungan tempat saya tinggal masih sangatlah asri. Air sungai mengalir jernih tanpa ada tumpukan sampah.  Penduduk sekitar pun sering memanfaatkan aliran sungai untuk memelihara ikan. Caranya, di sungai dibuatlah kotak-kotak balok yang berisi ikan. Saat ikan-ikan itu sudah besar, papan balok dibuka dan ikan-ikan pun dipanen.
Suasana perkampungan sangat terasa. Di samping rumah, bapak selalu menanam tanaman palawija, seperti tanaman kacang panjang, umbi-umbian, labu siam, labu kuning, jagung, cabai, cabe rawit, dll. Sehingga kebutuhan untuk memasak tinggal ambil di kebun belakang rumah. Saat menyenangkan yaitu saat bapak menguras kolam ikan istilah dapal bahasa sunda ngabeudahkeun kulah. Saya bisa seharian sibuk menangkapi ikan-ikan kecil yang disebut bereunyit dengan menggunakan ayakan. Masa kecil yang menyenangkan bagi saya. Saat indah itu pun hanya tinggal kenangan masa kecil yang masih membekas dalam ingatan.

15 tahun lalu....
Lalu, bapak pindah tugas. Kami sekeluarga pun pindah rumah. Kami harus beradaptasi dengan lingkungan baru yang jauh berbeda dengan tempat tinggal kami sebelumnya. Jika sebelumnya, kami dikelilingi oleh sumber air bersih yang tinggal ambil. Saat itu kami harus bersusah payah untuk mendapatkan air bersih karena  kualitas air di komplek perumahan ini kurang bagus. Ibu yang terbiasa menggunakan air bersih pun mengeluh.
“Bapak lihat, deh, air di komplek ini jelek, nyuci baju, hasilnya baju jadi kuning semua dan bau,” keluh mamah pada bapak.
“Wajar, Mah. Areal komplek ini bekas pesawahan jadi airnya kurang bagus,” jawab bapak.
“Terus gimana atuh ya. Airnya jelek begini, nggak bisa dipakai buat minum, masak, mandi, dan lain-lain.” Ibu pun tampak kebingungan.  Masalah ini terjadi pada saat pertama kali bapak dan mamah pindah rumah ke komplek perumahan ini. Komplek perumahan tempat  tinggal bapak dan mamah ini memang dulunya areal pesawahan sehingga air sumurnya kurang bagus.
Bapak pun harus menyaring air sumur terlebih dahulu agar bisa digunakan mandi. Ya, benar air sumur yang sudah disaring dan disimpan di toren hanya bisa digunakan untuk mandi, mencuci baju, dan mencuci piring. Air bersih sangat penting bagi keluarga kami karena menurut bapak, kualitas air memengaruhi kualitas kesehatan kita.  Air bersih itu tidak berasa, tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak mengandung logam berat.  Sayangnya, syarat-syarat tidak terpenuhi oleh air sumur di lingkungan ini. 

Air menjadi masalah yang sangat krusial bagi keluarga kami karena memang kebutuhan terhadap air bersih sangat penting. Bapak sangat mementingkan kualitas air karena air merupakan sumber kehidupan bagi manusia. Air berfungsi untuk membentuk sel-sel baru, memelihara dan mengganti sel-sel yang rusak. Air juga dapat melarutkan dan membawa nutrisi-nutrisi, oksigen, dan hormon ke seluruh sel tubuh yang membutuhkan. Sampah-sampah dan racun dalam tubuh pun dilarutkan dan dikeluarkan oleh air. Air juga menstabilkan suhu tubuh manusia. Bagaimana jadinya, jika air yang dikonsumsi oleh kita kualitasnya tibak baik tentunya kesehatan tubuh kita pun akan terganggu. Oleh karena itu untuk kebutuhan minum sehari-hari, bapak menyediakan air yang berkualitas yaitu air AQUA. Dengan mengonsumsi air yang berkualitas, pencernaan dan metabolisme tubuh pun menjadi lebih baik. Air bersih pun mampu memperkuat daya tahan tubuh dan menahan lapar.
Dari kilas balik tersebut, tampak sekali bahwa terjadi dua hal yang berbeda bersangkutan dengan masalah air. Jika sebelumnya keluarga kami tidak bermasalah dengan air bersih yang tersedia begitu berlimpah lalu kami harus kesulitan mendapatkan air karena perbedaan tempat. Lalu, sekarang bagaimana? Ternyata pertumbuhan penduduk yang terus meningkat menyebabkan ketersediaan air bersih semakin berkurang. Tahukah kalau ternyata tinggal 1% air di bumi yang dikonsumi untuk segala aktivitas manusia. Di Inggris dalam seminggu, satu orang bisa menghabiskan 700 galon air, jumlah tersebut sama dengan luas kolam renang. Sementara itu, jumlah air yang tersedia semakin terbatas.

Jumlah air yang semakin berkurang disebabkan oleh penggunaan air yang boros. Salah satu penghamburan air yaitu di bidang pertanian dikarenakan saluran air yang kurang baik mengakibatkan m kubangan dan penggaraman sehingga produktivitas air dan tanah pun hilang. Selanjutnya di bidang industri pun sering menyebabkan tercemarnya air oleh limbah industri sehingga kualitas air pun menjadi  buruk dan tidak bisa dikonsumsi. Selanjutnya yang menyebabkan berkurangnya air adalah penggunaan air secara masal oleh rumah tangga. Tanpa kita sadari, dalam kehidupan sehari-hari, malah kita sendiri yang sudah menghamburkan air dan menyebabkan sumber air bersih terus berkurang.

Sumber air bersih yang semakin berkurang bisa mengakibatkan masalah kesehatan. Salah satunya adalah penyakit diare yang diakibatkan oleh air yang sudah terkontaminasi bakteri ecoli. Penyakit diare ini dialami oleh 13 juta anak-anak balita setiap tahunnya dikarena ketidaktahuan mengenai air bersih dan bagaimana mendapatkan air yang bersih.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan sebagai anggota masyarakat agar ketersediaan air bersih tidak terus berkurang? Tentunya kita harus melestarikannya karena seumur kehidupan manusia, tentunya air masih tetap akan menjadi permasalahan yang penting.  Kita bisa melakukannya dengan cara sederhana yaitu berhenti membuang sampah ke sungai, tapi lakukanlah daur ulang. Ternyata membuang punting rokok sembarangan juga bisa memberi efek buruh pada air tanah. Nah,lho, tampak sepele tapi ternyata bisa berdampak luar biasa untuk masa depan kita, bukan? Kita juga bisa mengurangi penggunaan bahan kimia dalam kehidupan sehari-hari. Bahan kimia dari limbah deterjen juga bisa merusak kualitas air. Jika kita sudah menggunakan bahan kimia seperti cat, oli motor, dan lain-lain, jangan dibuang sembarangan ke sungai. Hal tersebut akan mengakibatkan rusaknya ekosistem karena makhluk-makhluk penghuni sungai bisa mati karena zat kimia. Kita juga bisa menghemat penggunaan air untuk kehidupan sehari-hari seperti mandi, mencuci mobil. Mandi dengan menggunakan sower lebih hebat daripada mandi dengan menggunakan air di bak mandi. Mencuci mobil menggunakan ember lebih hemat daripada menggunakan selang. 

Selanjutnya, jangan lupa senantiasa untuk menjaga kebersihan lingkungan. Ajarkan kepada anak-anak sejak dini untuk membuang sampah ke tempatnya dan memilah-milah mana sampah organik dan sampah nonorganik. Saya coba ajarkan kepada Fathan untuk membuang sampah ke tempatnya. Alhamdulillah, balita usia 2,5 tahun ini sudah pandai membuang sampah ke tempat sampah. Oh iya, saya juga memilih menggunakan popok kain bagi bayi saya daripada menggunakan popok sekali pakai. Selain hemat, penggunaan popok kain lebih sehat untuk kulit bayi. Cara mencuci popok kain juga dengan menggunakan deterjen sedikit, deterjen yang tidak mengandung pemutih dan pewangi.Sebagai ibu rumah tangga, hal-hal sederhana itulah yang saya lakukan untuk menjaga keletastarian air dan lingkungan. Harapan saya, langkah kecil ini bisa berdampak besar terhadap lingkungan yaitu bisa memenuhi kebutuhan air bersih untuk anak cucu di masa depan.