CeritaAnakBunda.com - Cerita Parenting Bunda

Sudah Siapkah Menjadi Orangtua?




Siapkah menjadi orang tua? Pertanyaan itu muncul di benak Bunda saat ini. Padahal, selama masa penantian 7 tahun, Bunda merasa siap menjadi orang tua. Banyak buku pendidikan anak alias buku parenting yang Bunda baca. Mulai dari buku parenting ala-ala nanny 911, buku-buku Bu Mely Kiong, buku Bunda Syarifah, Ayah Eddy, dll. Namun, ternyata mendidik anak tidak semudah membaca buku. Sehingga pertanyaan siapkah menjadi orang tua ini muncul di benak Bunda. Kenapa pertanyaan itu muncul? Karena ternyata mengasuh anak itu tidak hanya sekadar menerapkan teori, melainkan menjadi pribadi pembelajar, bukan belajar dari buku atau pengalaman orang lain, melainkan belajar pada diri sendiri.

Kenapa harus belajar pada diri sendiri? Karena ternyata setiap individu ternyata berbeda saat mengasuh dan mendidik anak. Cara mendidik anak pada keluarga A belum tentu dapat diterapkan pada keluarga B. Jika orang lain sukses mendidik anak dengan cara A kenapa Bunda tidak? Pertanyaan itulah yang menggelayuti pikiran Bunda sehingga Bunda berpikir bahwa memang setiap individu itu unik dan alangkah lebih baiknya memang belajar pada diri sendiri.

Siapkah menjadi orang tua? Bunda merasa tidak siap saat menghadapi Fathan yang bersikap membangkang saat diberi tahu. Yah, Fathan baru genap berusia 3 tahun, namun ternyata sudah memiliki jiwa pemberontak dalam dirinya. Apalagi setelah kelahiran adiknya, Fathan makin berulah. Menurut penilaian subyektif Bunda sebagai orang tua, Fathan termasuk anak yang cerdas, dia mampu menyerap informasi dengan cepat, Fathan juga bisa mengetahui mana yang salah dan mana yang benar. Sayangnya, Bunda sebagai orang tua masih memiliki kekurangan, bahkan banyak kekurangan. Bunda cenderung emosional dan mudah marah, apalagi saat melihat Fathan mengganggu adiknya. Bunda sudah mencoba berbagai cara yang  diterapkan di buku, namun belum berhasil.

 Akhirnya, Bunda menyadari sesuatu, bahwa sikap keras Fathan mungkin meniru dari orang tuanya. Walau bagaimana pun anak usia balita adalah peniru ulung. Kenapa harus Fathan yang berubah, kenapa bukan Bunda yang belajar lebih sabar dan ikhlas. Berubahnya cara pandang Bunda ini ternyata memberikan hasil. Sekarang, Fathan tidak lagi merengek ingin ikut saat Bunda tinggal pergi bekerja. Fathan juga sudah jarang mengganggu adiknya, bahkan dia cenderung suka main sendiri dengan mainan legonya, Fathan lebih mudah dinasehati. Yah, ternyata bukan hanya anak yang harus belajar, Bunda pun sebagai orang tua harus lebih banyak belajar juga. 

Sudah siapkah menjadi orang tua? Bunda rasa, jika kita semua mau belajar menjadi orang tua, mungkin akan sedikit muncul berita di tv mengenai kekerasan yang dilakukan orang tua kepada anak-anaknya. Usia-usia balita memang sangat rentan terjadi kekerasan pada anak-anak karena pada usia itu si anak sudah mulai memperlihatkan sikap penentangan dan di lain pihak orang tua merasa berkuasa kepada si anak sehingga untuk bisa menguasai si anak, muncullah kekerasan.

Baru beberapa tahun Bunda menyandang status sebagai seorang ibu (orangtua) namun banyak sekali tantangan yang harus dihadapi. Seringkali merasa frustasi dan tidak tahu harus bagaimana mendidik anak dengan tepat. Banyak kekhawatiran menggelayuti benak, khawatir salah jalan, salah ucap, salah memberi tahu. Perasaan-perasaan itu mengganggu dan membuat Bunda kadang merasa tidak siap jadi orang tua.
Saat mengikuti seminar parenting dari Bu Elly Risman, Bunda merasa tertampar karena sudah melakukan banyak kesalahan kepada anak-anak. Kesalahan pertama, Bunda sudah menitipkan mereka pada usia muda sehingga sudah tidak menyusu langsung, padahal menurut Bu Elly Risman, bayi itu sangat membutuhkan dekapan seorang ibu. Belum juga seorang bayi mengenal wajah ibunya, dia harus mengenal wajah lain (pengasuh, nenek) sehingga membuat si bayi merasa cemas. Bunda jadi sadar kenapa Fathan saat ini sering tidak mau ditinggalkan saat ke sekolah, padahal menurut gurunya, Fathan akan anteng mengikuti kegiatan di sekolah setelah Bunda pergi. Mungkin ini merupakan salah satu dampak ditinggalkan sejak masih kecil sehingga anak sudah merasakan kecemasan. Padahal seharusnya anak merasakan rasa aman dan terlindungi.

Menurut Bu Elly Risman, menjadi orangtua memang tidak ada sekolahnya, akan tetapi menjadi orangtua memang harus disiapkan. Setidaknya menyiapkan mental yang kuat apalagi tantangan saat ini sungguh luar biasa. Banyak pengaruh buruk yang mudah sekali diterima oleh anak, di antaranya game onlie yang mengandung konten kekerasan, video-video yang mengandung konten aksiporno. Hal-hal tersebut harus diperhatikan karena menurut beliau banyak orangtua yang tidak menyadari hal tersebut. Sehingga membiarkan anak-anaknya berlama-lama di warnet untuk bermain game online, membiarkan anaknya membuka akses internet tanpa ada pengawasan. Orangtua sibuk dengan gadgetnya, anakpun dibiarkan anteng dengan ponsel pintar. 

Bu Elly Risman menambahkan, menjadi orangtua itu harus memiliki tujuan. Apa tujuan kita dalam mendidik anak-anak. Apakah akan menjadikan anak yang sarjana ataukah menjadikan anak yang berbudi pekerti luhur? Semuanya tergantung orangtua. Anak sebagai titipan dari Allah Swt. Yang seyogyanya dirawat dengan baik. Jika mengingat hal tersebut, Bunda sering merasa tenang dan mengembalikan semuanya kepada Allah Swt. Bunda sudah berusaha untuk menanamkan nilai-nilai positif kepada Fathan sejak dini. Mungkin memang perlu usaha lebih dan kekonsistenan Bunda untuk terus-menerus menanamkan nilai yang baik. Bunda hanya berdoa supaya selalu diingatkan untuk mengucapkan kata-kata yang baik kepada anak. Semarah apa pun, sekesal apa pun, Bunda berharap dilindungi dari lisan yang buruk sehingga bisa menjaga Fathan dari doa-doa yang tidak dikehendaki. 

 Semoga Bunda bisa senantiasa bersabar dan ikhlas sehingga bisa membimbing putra-putri Bunda menjadi anak-anak yang soleh dan soleha.