CeritaAnakBunda.com - Cerita Parenting Bunda

Bertemu Piskolog: Seorang Anak Membutuhkan Perhatian Penuh





Bertemu Piskolog:  Seorang Anak Membutuhkan Perhatian Penuh.



“Fathan mau dituntun…salaaah…bukan di situ tapi di sini… Bunda mah nakal, salaaaaah….” Jerit Fathan.  Peristiwa seperti itu hampir terjadi setiap hari. Pagi hari yang sibuk. Bunda menyelesaikan pekerjaan rumah, lanjut agenda memandikan Fathan. Acara memandikan anak juga bukan perkara mudah, Fathan banyak menentang. 

“Mau buka baju sendiri …” teriaknya. Kalau Bunda sudah terlanjur membukakan pakaiannya, Fathan akan minta dipakaikan lagi. Setelah dipakai lagi bajunya, akan banyak alasan untuk mandi. Sementara waktu terus berjalan. Bunda tidak punya banyak waktu. Apalagi aturan masuk kantor yang ketat membuat Bunda harus terburu-buru setiap harinya. Entahlah, Bunda merasa sangat kelelahan dengan rutinitas pagi yang kacau balau. Fathan yang sering ngamuk-ngamuk dan minta melakukan seuatu berulang-ulang. Apalagi jika dia merasa kurang sempurna maka dia akan meminta diulang.

Tangan Fathan ingin dituntun tapi Bunda harus menuntunnya di tempat yang benar, kalau salah Fathan akan balik lagi ke tempat start/awal berjalan dan minta dituntun dengan benar. Terkadang Bunda sudah tidak sabar apalagi lihat jarum jam yang terus berjalan. Akhirnya Bunda jalan cepat-cepat dan Fathan nangis di belakang. Duuuh, kasihan deh anak Bunda.

Ya, Bunda butuh bantuan. Entahlah, sebuah bantuan tapi bukan penghakiman. Terus terang Bunda agak merasa takut ikut seminar parenting dan sebagainya kare Bunda merasa sudah melakukan banyak kesalahan kepada anak-anak. Namun, Bunda juga merasa tidak berdaya dan ada hal yang harus diperbaiki. Akhirnya, saat di grup WA sekolah Fathan ada pengumuman pemberitahuan bahwa aka nada tes psikologi untuk anak-anak, Bunda memberanikan diri menghubungi kepala sekolah. Bunda minta bertemu dengan psikolog untuk melakukan konsultasi. Alhamdulillah, Bu El (Kepala Sekolah Global Cendekia School) sangat baik dan memberikan waktu untuk Bunda berkonsultasi dengan psikolog.

Hari yang dijanjikan tiba, Bunda pun sengaja izin dari kantor untuk ke sekolah Fathan dan bertemu dengan psikolog yang bernama Bu Indri. Ternyata, pada hari itu Bu Indri memang akan melakukan tes pada beberapa anak. Setelah anak yang lebih besar melakukan tes, tiba giliran Fathan. Saat itu sudah waktunya makan siang, kayaknya Fathan agak sedikit lelah sehingga lesu. Tes yang dilakukan yaitu, Fathan diminta membuat lingkaran. Awalnya Fathan ragu-ragu membuat lingkaran dan minta dibantu Bunda. Setelah diberi contoh, akhirnya Fathan mau membuat lingkaran sendiri. Fathan membuat beberapa lingkaran, ada yang besar dan kecil. Setelah selesai membuat lingkaran, Fathan diminta untuk melihat gambar, di sana ada gambar sepeda, mobil, burung, kuda, dan lain-lain. Umumnya Fathan sudah tahu nama-nama yang ada di gambar. Lalu, gambar ditutup, Bu Indri membuat ilustrasi melalui kata-kata dan Fathan diminta menebak. Alhamdulillah, Fathan mampu menebaknya. 

Setelah selesai  dilakukan tes, kini giliran Bunda buat konsultasi. Bunda memaparkan beberapa permasalahan yang dihadapi Bunda terkait dengan Fathan. Bu Indri menyimak penuturan Bunda dengan seksama. Menurut Bu Indri, Fathan termasuk anak yang cerdas namun dia juga sangat sensitif dan membutuhkan perhatian. Ulahnya berkali-kali yang minta diulang-ulang itu dalam rangka mencari perhatian Bunda. Yah, Bunda akui memang waktu Bunda terbatas untuk Fathan. Bunda hanya punya waktu pagi dan malam hari. Belum lagi kalau malam Bunda suka diminta bantuin kerjaan ayah sehingga Fathan kurang teperhatikan. Bu Indri menyarankan kepada Bunda untuk lebih memberi perhatian kepada Bunda, seperti meluangkan waktu untuk bermain bersama, bercerita, dan lain-lain. Gaya bicara Bu Indri yang penuh perhatian membuat Bunda merasa nyaman dan tidak merasa digurui atau disalah-salahkan. 

Bu Indri pun tahu kalau Fathan anak yang sangat aktif sehingga membutuhkan penyaluran energi. Bu Indri menyarankan kepada Bunda untuk mengajak Fathan berenang, minimal setiap minggu. Bunda juga bisa mengajak Fathan bermain ke Taman Lalu Lintas atau ke arena permainan fisik lainnya. Bu Indri bilang, Fathan anaknya sensitif, dia tahu kalau sedang dibicarakan dan dia nggak suka. Sebaiknya Bunda memang lebih hati-hati jika bicara dengan Fathan. Selain itu, Bunda sebaiknya ‘jangan menjanjikan sesuatu’ kepada Fathan. Saran Bu Indri diresapi oleh Bunda. Aaah, Fathan, Bunda sudah banyak salah sama Fathan. Bunda akan terus belajar menerima masukan dan bersikap lebih baik lagi. Karena ternyata yang kamu butuhkan adalah perhatian dari Bunda. Maafkan Bunda yah, insya Allah Bunda akan lebih memperhatikan Fathan lagi. Harapan Bunda, Fathan bisa menerima cinta dari Bunda sepenuhnya dan tumbuh jadi manusia seutuhnya. 


Bertemu Piskolog:  Seorang Anak Membutuhkan Perhatian Penuh