CeritaAnakBunda.com - Cerita Parenting Bunda

Edisi Curhat: Tetangga Kok Gitu, Sih!




Hayooo … siapa yang suka nonton sitkom Tetangga Kok Gitu, Sih. Hahahaha … saat nonton sitkom itu, saya ketawa-ketawa sekaligus miris melihat tingkah polah mereka. Daaaan … jeeeeeng…jeeeeng…nggak nyangka bakal ngalamin sendiri, haiyaaaah...

Ceritanya kali ini Bunda lagi pengen edisi curhaaaaat. Biasanya khan curhatin masalah anak, sekarang pengen curhat masalah tetangga. Tadinya sih nggak pengen cerita-cerita di blog, cuma udah nyesek banget. Hiksss…curhat sama suami, komentarnya “Sabaaaar ajaaaa, Buuuun,”. Iyaaah sih Yah, Bunda sabar tapi hati seorang perempuan yang tersakiti tidak bisa dipungkiri, ceileeee … mulai deh drama.

Yah, ceritanya, keluarga kecil Bunda pindah ke tempat baru bertepatan awal bulan April. Jadi, yah Bunda pindah ke situ baru sekitar 2 minggu. Sebenarnya, sebelum pindah ke situ, Bunda udah kenal sama si tetangga, tapi yah nggak deket, cuma sepintas-sepintas. Maklumlah, Bunda khan pergi pagi pulang sore, bersosialisasinya kalau ada pengajian di masjid aja.

Sebelum pindah ke situ, Bunda udah pedekate kok, baik-baikin tuh tetangga. Tapi, kenapaaa yaaah, kalau diajak ngobrol jawabannya selalu ketus bahkan nyelekit ke hati. Pernah tuh suaminya komentar tentang Bunda yang nitipin Fakhira ke Sukabumi, dia bilang gini, “Nggak kangen ya Mbak, sama anak,”. Ya Allah, perkataan itu sangat menyakitkan hati seorang ibu. Namun, Bunda cuma bisa ngelus dada. Yaaah, biarin ajalah, toh orang khan bebas berkomentar walaupun nggak tahu keadaan yang sesungguhnya.


Adaptasi
Namanya juga pindahan, tentunya perlu proses adaptasi. Saat menempati rumah itu, Bunda berusaha banget bisa beradaptasi dengan baik. Walaupun memang pastinya ada hal-hal atau kebiasaan di sana yang Bunda belum tahu. Yaah, coba-coba diaturlah dengan waktu Bunda yang pas-pasan. Yaah, namanya pergi pagi pulang petang, berarti lihat muka doang nggak sempat ngobrol panjang lebar. 

Nah, rupanya yang paling mengalami kesulitan proses adaptasi adalah Fathan. Dia jadi 5X lebih rewel daripada biasanya. Sedikit-sedikit marah dan nangis. Ke mana-mana ngikut nggak mau ditinggal. Yah, orang dewasa saja perlu proses adaptasi apalagi anak-anak. Sepertinya kerewelan Fathan cukup mengganggu tetangga sehingga sering berwajah ketus kalau lihat Fathan nangis. Astagfirullah, pernah sekali Bunda kelepasan marah sama Fathan karena rewel. Sungguh Bunda nggak ingin marah tapi dengan kerewelan yang naik drastis dan sikap tetangga yang ketus bikin emosi naik ke ubun-ubun. Ya Allah, Bunda tobaaaaaatt.


Solusi:
Bunda praktekin beberapa teknik melepaskan. Paparannya ada di sini. Hasilnya Bunda lebih sabar menghadapi Fathan dan Fathan pun pelan-pelan sudah berkurang tingkat kerewelannya.

Jemuran
Musim hujan gini merupakan masalah besar bagi Bunda yang tidak ada di rumah. Cucian menumpuk dan harus segera dicuci. Waktu mencuci yang tepat adalah pagi hari setelah Subuh. Berhubung proses pindahan yang melelahkan, Bunda juga nggak sempat mencuci dong. Apalagi setiap sore hujan sehingga baju selalu basah kuyup karena kehujanan.Setelah pindahan, Bunda jadi rajin cuci mencuci dong, soalnya peer cucian banyaaaak banget. Hampir tiap pagi mencuci baju sehabis Subuh.

Hati siapa yang tidak sedih, saat pagi hari mencuci dan saat pulang hari dalam keadaan basah kuyup mendapati jemuran yang basah kuyup juga. Ya Allah, jemuran nggak ada yang angkatin. Sedih rasanya hati ini. Dengan penuh kedukaan Bunda mencuci ulang semua jemuran.

Solusi:
Bunda dan si Ayah membuat jemuran di dalam ruangan. Sehingga Bunda bisa cuci dan jemur dalam ruangan tanpa khawatir kehujanan lagi.
\
Tradisi Berbagi Makanan
Saat Bunda kecil, orang tua tinggal di lingkungan yang harmonis banget. Setiap punya makanan, orangtua selalu berkirim makanan ke tetangga. Begitu pun sebaliknya. Yaah, nggak ada salahnya dong yah, Bunda melakukan hal yang sama.

Kebetulan si Ayah baru pulang dari Bali dan membawa pie susu. Yaah, Bunda ingin dong berbagi oleh-oleh. Bunda sisihkanlah 2 kotak pie susu. Bunda kasih langsung ke si tetangga. Oalaaah, ekspresi mukanya ketus dan tidak mengucapkan makasih. Ya udah, Bunda diam saja. Lalu, Bunda lihat 2 kotak pie susu masih tergeletak di tempat yang sama. Bunda lihat ada suaminya, Bunda basa-basi, dong,
“Itu Pak, ada oleh-oleh dari suami, “
“iyah,” jawabnya.

Sorenya Bunda pulang, 2 kotak pie susu masih tergeletak di tempat yang sama. Sakiiiit hati ini. Bergemuruh dalam dada ini, “Apa yah salah Bunda sama dia? Kenapa dia sepertinya nggak suka sama Bunda sampai-sampai pemberian Bunda tergeletak begitu saja di tempat yang sama. Aaah, sebagai manusia biasa, Bunda benar-benar merasa sakit hati. 


Bukankah Rasulullah mengajarkan untuk bersikap baik kepada tetangga. Islam telah mengagungkan hak tetangga dan Jibril ‘alaihissalam tidak henti-hentinya memberikan wasiat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memenuhi hak tetangga, sampai-sampai beliaushallallahu ‘alaihi wasallam mengira bahwa Syari’at (Islam) akan menetapkan hukum pemberian warisan kepada tetangga. Yang mana beliau bersabda,


مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِى بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ يُوَرِّثُهُ

” Jibril ‘alaihissalam senantiasa (terus-menerus) berpesan kepadaku (untuk berbuat baik) dengan tetangga,sehingga aku mengira bahwasanya dia akan memberikan hak waris kepada tetangga.” (HR. Al-Bukhari no. 6014 dan 6015, Muslim no. 6852 dan 6854, dan imam-imam ahli hadits lainnya)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada tetanggga, dalam firman-Nya,


وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ [النساء:36]

“ Dan beribadahlah kepada Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun (jangan berbuat syirik). Dan berbuat baiklah kepada dua orang tuamu, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat, dan tetangga yang jauh.” (QS. An-Nisa`: 36)

Dan lihatlah, bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendorong ummatnya untuk berbuat baik kepada tetangga dan memuliakannya, beliau bersabda,


“… وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ[رواه البخاري ومسلم]

”Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya.” (HR. Riwayat al-Bukhari no. 5673, 5784 dan 6111 dan Muslim kitab al-Iman bab al-Hats ‘ala Ikraamil Jaar wadh Dhaif no. 182) dan dalam riwayat Imam Muslim,


فليحسن إلى جاره”.

”Maka hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya.” (HR Muslim no. 164 dan 185)

Bahkan syari’at menjadikan mencintai kebaikan untuk tetangganya sebagai bagian dari keimanan. Nabishallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,


وَاَلَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُحِبَّ لِجَارِهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ .

”Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang hamba beriman sebelum ia mencintai untuk tetangganya apa-apa yang dicintai untuk dirinya sendiri.” (HR al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)

(Hadits dapat kutip dari: http://www.salamdakwah.com/baca-hadist/berbuat-baiklah-kepada-tetanggamu.html)

Entahlah, dalam hal ilmu agama, Bunda memang sangat dangkal. Mungkin sebagai manusia a.k.a tetangga, Bunda juga belum bisa berbuat baik. Mungkin sebaiknya daripada mangkel dan ngedumel, lebih baik Bunda memperbaiki diri. Kalau curhat di sini mah masih boleh kayaknya. Kali aja ada pembaca yang mau memberi saran kepada Bunda agar bisa hidup bertetangga dengan baik. Bunda sih berharap jika ada salah atau keliru ditegur langsung, insya Allah Bunda akan memperbaiki diri. Sekian edisi curhat: Tetangga Kok Gitu, Sih! Semoga bisa lebih baik lagi.