CeritaAnakBunda.com - Cerita Parenting Bunda

Tahap Perkembangan Anak (Milestone) Bukanlah Perlombaan




Fakhira, 10 Month

Tahap Perkembangan Anak (Milestone) Bukanlah Perlombaan
 


“Saya sedih, setiap ketemu sama mba A, dia selalu nanya, kok anak saya giginya masih sedikit, lalu membandingkan dengan gigi anaknya yang sudah tumbuh banyak,” curhat seorang teman.

Mendengar hal tersebut, si Bunda cuma bisa senyum kecil. Soalnya Bunda memang tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut. Dulu, pas tahap pertumbuhan Fathan, si Bunda sudah seneng banget Fathan melalui semua tahap perkembangannya. Dan itu yang penting bagi si Bunda.

“Aku makin sedih, saat ketemu terakhir kali, dia bilang anakku kurang kalsium, padahal aku udah maksimal banget kasih MPASI buat anakku,” keluhnya lagi.

“Minum ASI khan? Jangan khawatir, anak yang minum ASI insya Allah perkembangannya akan baik, asalkan kita rajin menstimulasi. Malahan saya udah nggak kasih ASI, bukannya nggak mau tapi memang ASI saya sudah nggak keluar untuk Fakhira,” saya mencoba menghiburnya dengan memberi tahu kondisi saya yang sebenarnya.

“Saya hanya berdoa semoga Fakhira selalu sehat dan perkembangannya tidak terganggu,” ucap saya lagi menenangkan. Jujur, si Bunda kalau menghadapi hal begini suka bingung, karena memang si Bunda nggak pernah mematok target, usia berapa anak harus tumbuh gigi, usia berapa anak harus jalan. Pokoknya, rajin-rajin aja mantengin timeline tahap perkembangan anak. Kalau sudah sesuai ya disyukuri. Alhamdulillah, Fakhira sudah tumbuh gigi sejak usia 4 bulan. Usianya yang sekarang, FAkhira sudah belajar berdiri sendiri tanpa berpegangan. Bunda selalu berusaha bersyukur dan tidak membandingkan perkembangan Fakhira dengan anak lain yang seusianya.

“Si Mba A sekarang cemberut sama saya, gara-gara anak saya sudah bisa jalan, sementara anaknya belum,” ucap teman saya lagi saat bertemu lagi.

Haduuuh, si Bunda sampai geleng-geleng kepala. “Masa, sih?” tanya saya.

“Iyah, si mba itu khan pengen banget anaknya bisa jalan cepet, suka membanggakan anak pertamanya yang sudah bisa jalan usia 10 bulan,” ucapnya lagi.

“Ya sudah biarin aja, nanti juga kalau anaknya sudah bisa jalan, dia nggak akan cemberut,” ucap saya menenangkan.

Hihihi…semakin kesini si Bunda semakin berpikir, memang menjadi seorang ibu itu tugas yang berat. Sebagai seorang ibu tentunya kita akan disibukkan dengan berbagai aktivitas mengasuh, memperhatikan asupan gizi anak, dan memperhatikan perkembangan si anak agar perkembangannya tidak terganggu. Namun, kadang yang masalah yang lebih mengganjal adalah jika anak kita jadi bahan perbandingan dengan anak lai. Sakitnya tuuuh di siniiiii…

Si Bunda mengakui kekurangan Bunda yang saat ini tidak mengasuh Fakhira langsung karena Bunda harus bekerja. Namun, Bunda selalu mensyukuri tahap perkembangan yang dilalui oleh Fakhira dan Bunda tidak menuntut banyak. Jika anak pertama mungkin Bunda banyak cemas, cemas saat Fathan belum banyak bicara pada usia 18 bulan sementara sepupunya udah pintar berceloteh. Alhamdulillah, usia dua tahun pas, Fathan sudah pandai berkomunikasi dengan orang dewasa menggunakan bahasa yang jelas dan tidak cadel.

Berdasarkan pengalaman tersebut, Bunda lebih bersikap santai dalam menghadapi tahap perkembangan Fakhira sekarang. Jika ada orang yang membandingkan, Bunda hanya tersenyum dan berdoa semoga perkembangan Fakhira bisa lancar. Bunda yakin, tahap perkembangan seorang anak itu beda-beda. Ada anak yang lebih dulu tumbuh gigi, ada anak yang lebih dulu bisa jalan, ada anak yang lebih dulu bisa bicara. Yang penting bagi Bunda adalah semua tahap perkembangannya terlalui, mulai dari membalikkan badan, duduk, merayap, merangkak, berdiri, berjalan, dan lain-lain. Bunda yakin, tahap perkembangan anak atau milestone itu bukan perlombaan. Tidak harus menjadi bangga saat anak kita lebih dulu bisa jalan, tidak harus menjadi drop dan frustasi jika anak orang lain lebih dulu bicara. Tinggal bagaimana kita melakukan yang terbaik untuk anak kita.

Jangan lupa, sebagai seorang ibu juga harus rajin menstimulasi si anak agar perkembangannya bisa berjalan dengan sangat baik. Bunda akui, Bunda pun bukanlah seorang ibu yang rajin menstimulasi anak. Saat Bunda ada waktu bersama Fakhira, Bunda akan berusaha untuk melakukan stimulasi kepadanya. Alhamdulillaj, sejauh ini perkembangan Fakhira sangat baik. 

Ada lima ciri penting dari perkembangan bayi yaitu di antaranya:
1.       Keterampilan motoric kasar. Cara bayi menggunakan otot yang lebih besar pada tubuhnya – otot punggung, kaki dan tangan, serta leher – dikelompokkan dalam keterampilan motorik kasar. Otot-otot tersebut berperan serta saat terjadinya perkembangan bayi seperti mengontrol kepala, duduk, merangkak, dan melangkah. Kemajuan keterampilan motori kasar yang dialami bayi dari lahir sampai dua tahun berarti bayi semakin mampu mengangkat tubuhnya dari lantai serta melakukan gerakan dari kepala sampai kaki.
2.       Keterampilan motorik halus. Keterampilan jari dan tangan yang digunakan bayi untuk memainkan mainan dipengaruhi oleh keterampilan motorik halus. Seperti keterampilan motorik kasar, motorik halus berkembang dalam kemajuan yang teratur, dari gerakan seperti meninju yang meleset sampai berjinjit untuk menekan sesuatu dengan ibu jarinya dan menunjuk jari.
3.       Keterampilan bahasa. Di sinilah keterampilan seorang ibu atau pengasuh sebagai komunikator  anak benar-benar menentukan. Bayi sudah mulai bicara sejak ia lahir. Tangisan dari bayi yang baru lahir membuat orang yang menjaganya berlari menghampiri, membuat si ibu memberikan ASI dan memeluknya. Untuk bayi, bahasa adalah bentuk apa yang membuat si pengasuhnya memberikan respons. Pada tahun-tahun pertama, yang dinamakan tahap pralinguistik dari perkembangan bahasa, bayi belajar untuk berkomunikasi sebelum dapat mengucapkan kata-kata.Pada tahwap awal setelah dilahirkan, bayi belajar bahwa bahasanya yaitu tangisan sebagai alat pengganti bersosialisasi yang bisa digunakan untuk menarik perhatian.Dengan menanggapi tangisannya secara sensitive sejak awal, seorang pengasuh membantu dia memperhalus isyaratnya hingga terbentuk bahasa tubuh yang sopan dan memudahkan syaraf untuk bekerja. Para ibu secara intuitif dapat berbicara pada tingkat bayi dan dapat menaikkan tingkat komunikasinya apabila si bayi telah siap.
4.       Keterampilan kognitif. Keterampilan kognitif mencakup kemampuan untuk berpikir, memberikan alasan, membuat penyesuaian terhadap perbedaan situasi saat ia bermain, dan memecahkan masalah seperti menentukan cara merangkak melalui suatu rintangan.

Dari ciri penting di atas, Bunda jadi tahu ternyata ada banyak hal yang harus diperhatikan seorang ibu terkait perkembangan buah hatinya. Oleh Karena itu, tahap perkembangan bayi bukanlah perlombaan, siapa yang dulu-duluan melainkan keterampilan-keterampilan yang harus dikuasai si anak sesuai dengan tahap perkembangannya. Jadi, walaupun ada yang bilang, “Anakku sudah bisa jalan, dede Fakhira masih belum bisa jalan,” saya berusaha bersikap santai karena saya yakin perkembangan akhira bisa berjalan dengan baik. Tinggal bagaimana saya tidak menyerah untuk terus memberikan stimulasi yang tepat kepadanya.

Menurut si Bunda, tahap perkembangan perkembangan anak bukanlah perlombaan, bagaimana menurut Bunda-Bunda?