CeritaAnakBunda.com - Cerita Parenting Bunda

Anak-Anak Aman Bunda Pun Tenang




Anak-Anak Aman Bunda Pun Tenang .—Hati setiap ibu selalu tertuju untuk anak-anak. Prioritas seorang ibu pastinya kenyamanan dan keamanan anak-anak. Namun, bagaimana jika keadaan tidak memungkinkan?
Memiliki dua orang balita tanpa ART membuat kehidupan jungkir balik. Setiap hari selalu diliputi kecemasan. Si sulung yang berusia 3,5 tahun sangat membutuhkan perhatian. Si kecil yang berusia 14 bulan pun tentunya membutuhkan ibunya. Berpisah dengan anak merupakan suatu keadaan yang menyiksa bagi seorang ibu. Sehingga Bunda memutuskan untuk membawa si bungsu untuk tinggal bersama. Sebelumnya si bungsu dititipkan di rumah orangtua karena tidak ada ART. Saat itu usianya masih 6 bulan, dibawa ke daycare sangat tidak memungkinkan karena Bunda ke mana-mana naik motor. Rasanya sangat riskan menggendong bayi sambil membawa motor apalagi harus membonceng balita juga. Akhirnya, dengan berat hati Bunda menitipkan Fakhira ke neneknya. Padahal, saat itu Fakhira sedang membutuhkan ASI. Bunda berusaha menyetok ASI tapi ternyata keteteran. 


Saat berulang tahun yang pertama, Bunda memutuskan membawa Fakhira kembali. Alasannya, Bunda tidak bisa berpisah dengannya. Bunda pun ingin agar Fathan lebih sayang dan dekat dengan adiknya. Akhirnya, Bunda memutuskan Fathan dan Fakhira bersekolah yang sama. Bagaimana perjalanan menuju kantor dan daycare? Ya, Bunda masih menggunakan motor. Sebenarnya, Bunda cemas apakah Bunda bisa membawa dua balita di motor. Bismillah, dicoba. 


Ya Allah, pertama kali Bunda membawa dua balita di motor, sepanjang jalan Bunda berdoa demi keselamatan anak-anak. Tahu khan sekarang para pengguna jalan sangat tidak ramah. Motor, angkot, mobil sering nyalip. Duh, bikin jantung deg-degan. Perjalanan menuju kantor dengan menggunakan motor biasanya bisa ditempuh dalam waktu 30 menit. Namun, sekarang jalanan semakin macet karena ada pembangunan fly over di perempatan Jalan Jakarta, Bandung.

Setiap pagi dan sore hari, Bunda membawa anak-anak dengan mengendarai motor. Tantangan terberatnya adalah saat si sulung terkantuk-kantuk di boncengan belakang. Duuuh, benar-benar membuat khawatir. Para pengendara lain pun sering mengingatkan Bunda saat melihat bocah di belakang ngantuk. Sebenarnya, Bunda sudah pakai sabuk boncengan anak, tapi tetap saja khawatir, apalagi badannya goyang kiri dan kanan saat mengantuk. Satu lagi tantangannya yaitu saat turun hujan. Waah, sudah deh, khawatirnya dobel-dobel.  
Si ayah pun tentunya merasa khawatir dengan kondisi ini, apalagi si ayah sering berada di luar kota, tidak bisa antar jemput kami. Lalu, si Ayah menyarankan Bunda untuk menggunakan UBER. 

“UBER? Apa itu?” tanya Bunda.
“Semacam taksi online. Orang sudah banyak yang menggunakannya. Bunda coba, deh,”


Akhirnya Bunda pun mengunduh aplikasi UBER di ponsel. Ternyata, mudah sekali mengunakannya.  Bunda tinggal tentukan tempat jemputan sama tempat tujuan. Nanti akan keluar estimasi biaya perjalanan. Tarif dari kantor ke rumah tidak mahal. Ah, tahu gini, kan Bunda bisa pakai UBER setiap hari. Bunda pun tidak perlu cemas dengan keselamatan buah hati. Bunda bisa tenang berangkat kerja dank e daycare bareng anak-anak.
Kesan Bunda menggunakan UBER, driver-nya ramah dan helpful. Apalagi Bunda khan rempong, 
bawaannya banyak. Bawa tas ransel laptop untuk kerja, bawa tas anak-anak sekolah. Nah, drivernya ramah dan ringan tangan menolong Bunda membawakan barang bawaannya yang banyak. Sehingga Bunda bisa fokus ke anak-anak. Oh, iya, memanggil UBER dengan aplikasi pun cepat banget, lho. Tidak perlu waktu lama menunggu kedatangan UBER. 

Dulu, Bunda pernah punya pengalaman kurang baik saat menelpon taksi. Bunda sudah menelpon dan memesan taksi karena saat itu hujan turun sangat deras. Telponnya sibuk terus dan akhirnya diangkat. Namun, ternyata taksinya penuh semua. Bunda pun dapat waiting list. DItunggu-tunggu, si taksi enggak datang-datang, dan Bunda harus menununggu hujan reda di kantor sampai pukul 09.00 malam. Bayangkan, menunggu hujan reda di kantor sampai malam bersama balita. Hikss…sedihnya. Dari situ, Bunda agak malas menggunakan taksi kalau enggak terpaksa banget.

Beda banget saat menggunakan UBER. Bunda tidak harus menunggu lama. Setelah selesai order, Bunda akan mendapat telpon dari driver. Lalu Bunda tinggal menunggu sebentar lalu UBER pun datang, Bunda langsung jemput anak-anak terlebih dahulu ke daycare baru deh pulang. Pagi hari pun tidak sulit memanggil UBER. Sehingga Bunda tidak khawatir telat datang ke kantor. Asalkan Bunda sudah memprediksi waktu perjalanan dengan menggunakan mobil.

Oh iya, mobil UBER juga selalu bersih dan wangi. Anak-anak suka. Apalagi ada beberapa driver yang menyediakan air minum. Saat si kecil Fakhira kehausan, driver mempersilakan Bunda membuka minuman mineral yang sudah disediakan. Bunda merasa tenang setelah menggunakan UBER Bandung karena anak-anak pun aman dan merasa nyaman. Bunda tidak khawatir lagi dengan keselamatan para bocah itu di jalan. Kalau si sulung mengantuk, dia bebas tidur di mobil. Bunda tidak khawatir akan jatuh. Terima kasih UBER, adanya UBER membuat anak-anak aman Bunda pun tenang.