CeritaAnakBunda.com - Cerita Parenting Bunda

Melatih Kesabaran Anak Lewat Memasak Bersama




Melatih Kesabaran Anak Lewat Memasak Bersama. Fathan termasuk anak yang kurang sabaran. Segala sesuatu maunya cepet. Duuh, bikin si Bunda gemes banget.
“Fathan mau roti, sekarang!”
“Fathan mau susu, SEKARANG!”

Duh, kalau udah dengar kata sekarang rasanya bikin naik darah. Hehehe..calm down, Bunda. Jangan emosi, yaa.. Siaaaap..Bunda tarik napas. Fiuuuuuhhh…

Ini tidak bisa dibiarkan. Walaubagaimana pun, si sulung harus diajarkan bagaimana bersabar. Lewat nasihat sama sekali enggak mempan. Siapa juga yang suka dinasehatin. Emak-emak aja malesin dikasih nasehat. Apalagi bocah 3,5 tahun. Malah kabur dia kalau dinasehatin. Kalau enggak, denger sih tapi enggak ngerti . Baiklah, si Bunda harus cari cara, kira-kira apa, ya?

Setelah berpikir lama, lewat semedi 7 hari 7 malam. Halaaah lebay. Si Bunda dapet ide, gimana kalau melatih kesabaran anak lewat memasak bersama. Tapi persoalannya adalah Bunda enggak bisa masak. Dueee…repot amat sih, si Bunda.

Yo wess.. Bunda bisa kok masak yang mudah. Eng ing eeeeng apa coba? Ini salah satu menu makanan sehat untuk anak yang Bunda bisa buat. Hahahaha … cara masaknya mudah banget tinggal kocek-kocek di atas kompor. Yup, betul. Masak agar-agar. Kebetulan Fathan sama Fakhira doyan banget sama agar-agar dan pudding. Cara membuatnya pun mudah.

Bunda ajak dua bocah ke warung. Si bocah yang milih mau masak agar-agar. Yo wess…Bunda ikuti kemauanmu, Nak.

Setelah semua bahan siap. Yaelaaah…Cuma agar-agar, gula pasir, dan air doang. Hihihi…panci yang sudah diisi agar-agar, gula, dan air diletakkan di atas kompor. Cekreeek…kompor gas dinyalakan. Si sulung mulai enggak sabar.

“Mau lihat, Bundaaaa,”
“Iyah, Bunda kocek-kocek dulu, ya…”
Bunda pun mulai mengocek-ngocek adonan agar-agar di atas kompor. Haiyaaah… ngoceknya dengan perasaan cinta dong,ya. Si sulung udah naik tingkat ketidaksabarannya.
“Bunda kok ngoceknya lama, sih?”
“Iyah, khan belum matang,” sambil terus ngocek.
“Aku mau kocek, Bunda,”
“Eitss…bahaya, panas, ya, “ Bunda mempertahankan ciduk. Si Sulung terus mengamati Bunda yang anteng kocek-kocek adonan agar-agar.

Akhirnya, adonan mulai mendidih. Si Bunda pun mematikan kompor dan menyiapkan cetakan agar-agar. Si Sulung enggak sabar udah mulai ingin makan agar-agar.
“Sebentar, ya, dimasukin cetakan, dulu.”
“Lama sih, Bunda,”
Setelah masuk cetakan, tangan si sulung mulai menjangkau agar-agar.
“Eits….masih panas, hati-hati.”
“Ih, aku kan mau,” ucapnya.
“Sabar, yaaaa…belum bisa dimakan, nanti tunggu dingin dulu.”
“Masukin pulkas ya, Bunda,” (pulkas=kulkas)
“Enggak, nanti tunggu dingin dulu baru masuk kulkas.”
“UUgh..lamaaaa…”
“Yuk, sambil nunggu agar-agar dingin, kita main dulu,” ajak Bunda.
Kami pun main lego dulu. Tapi selama main lego si sulung enggak konsentrasi. Kepalanya terus nengok kea rah dapur.
“Udah dingin belum, Bunda.”
“Belum,” ucap Bunda.
Setelah dirasa udah mulai dingin, Bunda ajak Fathan ke dapur.
“Mau makan, Bunda,”
“Belum, agar-agarnya belum keras.”
“Lama banget, sih. Kan udah dingin,”
“Boleh dimakan tapi belum keras, mau?”
“Hmm…mau” diambilnya satu agar-agar yang udah dingin tapi belum keras.
“Hmmm… enggak enak, ah,”
“Iyah, tunggu keras, dulu.”

Akhirnya si sulung mau nunggu agar-agarnya keras dulu. Setelah beberapa lama, Bunda ambil agar-agar dari kulkas dan dimakan bareng-bareng.

“Enaaaaak…” ucap si sulung.
Hihihi…tuh khan, kalau sabar, Fathan bisa makan agar-agar yang enak.

Ternyata memang mengajarkan anak sikap sabar tidak bisa lewat nasihat dan kata-kata tapi harus berdasarkan pengalaman. Pengalaman membuat agar-agar mengajarkan Fathan bahwa segala sesuatu tidak harus selalu bisa SEKARANG. Semua ada prosesnya. Seperti memasak agar-agar yang tidak bisa langsung dimakan walaupun sudah selesai dimasak tapi harus didinginkan terlebih dahulu. Alhamdulillah, sejak itu, sedikit-sedikit Fathan sudah bisa bersabar. Kata-kata SEKARANG sudah berkurang dari mulutnya.
Itu baru masak agar-agar, gimana kalau masak yang lain yaa. Duuuh, Si Bunda harus sering masak ini, mah. Ini cara si Bunda Melatih Kesabaran Anak Lewat Memasak Bersama. Bagaimana dengan Bunda yang lain?