CeritaAnakBunda.com - Cerita Parenting Bunda

Horeee… Fathan Lulus Toilet Training





Horeee… Fathan Lulus Toilet Training. Sebenarnya kalau ngomonging Toilet Training si Bunda jadi malu sendiri. Dengan alasan enggak sempat, si Bunda selalu lalai toilet training sama Fathan. Apalagi pernah suatu kali pas di rumah mama (kenapa enggak di rumah sendiri? Karena kalau di rumah mamah ada yang jaga Fakhira, Bunda jadi fokus sama Fathan) Tapi apa yang terjadi, baru setengah jam pakai celana dalam, Fathan sudah pipis di celana. Mamah langsung menyusuh si Bunda pakein pospak ke Fathan.

Saat usianya 4 tahun (Si Bunda tutup muka karena malu), di sekolah yang masih pakai pospak itu Fathan dan seorang temannya. Kayaknya Fathan mulai malu, deh. Dia sendiri yang minta dipakaikan celana dalam. Oke, si Bunda pun pelan-pelan mulai memakaikan celana dalam. Walaupun kadang giliran pakai pospak. Maklum jumlah celana dalam fathan baru enam biji, pas musim hujan sering enggak kering. Jadi kalau lagi enggak ada, dipakein pospak lagi.
Biasanya, Fathan dipakaikan celana dalam ke sekolah sampai sore. Pulangnya, Bunda kembali pakaikan pospak, terutama saat mau tidur. Si Bunda masih khawatir dia ngompol di celana saat tidur.

Anehnya, kalau dipakein pospak, pas dibuka pospaknya penuh dengan air seni. Begitu pun kalau BAB, Fathan cuek aja BAB di pospak. Nah, kalau dipakein celana dalam (di sekolah) katanya Fathan suka bilang kalau mau pipis atau BAB.  Oke, kalau begitu, si Bunda mulai pakein celana dalam kalau pas akhir pekan.Si Bunda teteup cerewet, “Kalau pipis bilang,ya,”. Ngomong begitu beberapa kali hingga si bocah pun bosan dan mengatakan yang sebaliknya. Duuh, si Bunda kayaknya banyak khawatirnya, deh.

Nah, sekarang Fathan sudah rutin setiap hari pakai ceana dalam. Malamnya masih teuteup pakai pospak.  Bunda perhatikan kalau pakai celana dalam, Fathan bilang pas mau pipis atau BAB. Fathan juga lebih bisa menahan pipis. Berbeda dengan saat memakai pospak. Bunda pun memberanikan diri memakaikan celana dalam saat malam hari. Sebelum tidur, Bunda kembali cerewet,”Kalau mau tidur harus pipis dulu, ya,”.Seperti biasa, Fathan kembali menyangkal dan mengatakan sebaliknya. Eh, saat mau tidur, dia sendiri yang bilang mau pipis dulu. Bunda pun mengantar ke kamar mandi dan cebokin dia.

Mau tidur, Fathan minta dipakaikan celana dalam lagi. Dia pun tidur. Saatmalam, Bunda sesekali bangun mengecek celananya.Alhamdulillah masih kering. Saat bangun pagi, celananya masih kering. Horeee.. Fathan lulus toilet training. Bunda bangga sekali sama Fathan.
Mungkin bagi orangtua yang lain, mengajarkan pipis sendiri itu mudah. Namun bagi Bunda yang terbiasa ingin praktis, enggak mau ribet bersihkan lantai kalau dia ngompol,  kurang telaten, banyak khawatirnya, mengajarkan toilet training perlu keberanian dan kepercayaan luar biasa. Bunda semakin yakin kalau Fathan sedikit demi sedikit mulai meninggalkan masa bayi-nya (balita) dan menuju fase berikutnya.


Berdasarkan pengalaman tersebut, Bunda mengambil beberapa pembelajaran mengenai toilet training.

1.      Dimulai dari kebiasaan
Ternyata anak itu terbentuk dari kebiasaan. Saat kebiasaan baik dilakukan, si anak akan mengikuti dan menjalankan kebiasaan baik tersebut. Misalnya, saat dulu saya membiasakan pakai pospak, si anak pun malah biasa pipis dan BAB di pospak tanpa bilang. Padahal dia sudah pintar bicara dan mengutarakan keinginannya sejak usia 2 tahun. Namun, karena s Bunda tidak membiasakan memakai celana dalam, anak pun jadi terbiasa memakai pospak.

2.      Hilangkan khawatir
Si Bunda memang suka khawatir berlebih. Khawatir si anak beginilah, begitulah. Khawatir si anak ngompol saat tidurlah, ngompol saat di jalanlah. Sehingga, saat tidur dan bepergian, si Bunda tetap memakaikan pospak. Padahal, katanya secara psikologis penggunaan pospak berkepanjangan itu tidak baik. Si anak menjadi tidak bisa mengontrol BAK dan BAB-nya.Kalau keterusan sampai besar bahaya juga, khan.

3.      Berikan kepercayaan pada anak
Dampak dari penuh rasa khawatir adalah si Bunda jadi kurang percaya sama anak. Buktinya si Bunda terus-terusan bilang “Kalau pipis bilang,ya” , “Kalau mau tidur pipis dulu,”. Saking seringnya bilang, si Bunda jadi cerewet dan si anak jadi mengabaikan pesan kita. Bahkan mengatakan yang sebaliknya. Berkaca dari hal tersebut, memberikan kepercayaan bahwa anak bisa melakukannya dengan baik apa yang diminta ternyata memang sangat penting. Hal ini jadi pelajaran banget buat si Bunda.

4.      Terus bersabar dan telaten
Sabar dan telaten merupakan dua hal yang sulit dilakukan.Apalagi Bunda tidak hanya mengurus satu balita tapi dua balita yang dua-duanya membutuhkan perhatian pada waktu yang bersamaan. Contohnya, saat pulang kerja dan kondisi kami dalam keadaan lapar,kami bertiga makan. Saat itulah,dua balita ini mulai mengeluarkan berbagai trik untuk meminta perhatian. Yang satu minta dibuatkan susu, yang satu minta diantar ke kamar mandi karena mau BAB, si Aa numpahin air, si Dede mengacak-acak makanan. Hadeuuh bikin kepala si Bunda pusing tujuh keliling. Saat-saat seperti itulah diperlukan kesabaran tingkat tinggi. Hahahaha…kalau udah emosi memuncak bisa-bisa lepas kontrol. Nah, saat masa-masa lepas pospak pun merupakan masa-masa menguji kesabaran sehingga tetap dibutuhkan ketelatenan agar tujuan anak bisa lepas pospak seutuhnya tercapai.

Nah, itu pengalaman panjang dalam rangka usaha lepas pospak bagi Fathan. Berkaca dari hal tersebut, sepertinya untuk adiknya harus segera lepas pospak dari sekarang.  Jangan sampai kelamaan seperti kakaknya. Apalagi katanya anak perempuan lebih cepat mengerti jika dibandingkan dengan anak laki-laki.