CeritaAnakBunda.com - Cerita Parenting Bunda

Mengendalikan Emosi Pada Anak




Dulu sebelum memiliki anak, Bunda yakin bisa menjadi ibu yang supersabar. Saat mengajar di TK, si Bunda mampu menghadapi anak orang lain dengan sabar,  masa menghadapi anak sendiri tidak. Ituah pikiran si Bunda.Tapi ternyata itu hanyalah angan-angan indah masa lalu. Kenyataannya tidak seindah angan-angan. Begitu sulit bagi si Bunda untuk mengontrol emosi. Kadangkala itu terjadi di dalam alam bawah sadar. Ternyata, dampaknya pun kurang baik kepada anak, terutama pada si sulung yang sering menjadi tempat luapan emosi si Bunda. Sekarang pun, si sulung Fathan sering meledak-ledak emosinya. Duh, kalau sudah begini sering merasa bersalah. 

Kehamilan anak pertama memang special bagi si Bunda yang sudah menanti selama 7 tahun. Berhubung anak pertama tentu maunya serbasempurna. Saat hamil selalu mengonsumsi makanan yang sehat dan kaya gizi. Si Bunda juga menghindari makanan instan seperti mie instan, pizza, ayam goreng krispi, kentang goreng, dan lain-lain. Si Bunda juga berusaha banyak mengonsumsi buah dan sayur. Alhamdulillah, Fathan lahir dalam keadaan sehat dengan berat badan 4 kg. Sejak hamil pun, saya sudah belajar cara merawat bayi baru lahir. Alhamdulillah, saat baru lahir, saya sudah bisa memandikan Fathan dan memakaikan kain bedong. 
Fathan 2 days


Namun, masa-masa merawat bayi kini sudah lewat, sekarang tantangan sebagai seorang ibu kian bertambah. Apalagi sekarang ada dua balita yang sebaiknya Bunda perhatikan. Keduanya seing berebut perhatian sehingga seringkali Bunda kewalahan dalam mengendalikan emosi pada anak. Sehingga sering terjadi pertempuran kekuatan emosi antara si Bunda dan Fathan. Seringkali Bunda merasa memiliki hubungan yang unik dengan si suulung. Seringkali, kemarahan kami berdua terpicu oleh hal yang sepele. Tidak jarang si Bunda berperilaku irasionaldalam menghadapinya, malah kadangkala kekanakkan.  Si sulung juga sering berperilaku menyebalkan seolah menguji kesabaran si Bunda. 


Ternyata fenomena ini ada istilahnya dalam ilmu psikologiyaitu ghost in the nursery yaitu si anak membangkitkan perasaan kemarahan yang terpendam dari masaanak-anak kita dan membuat kita secara tidak sadar berespon sedemikian rupa untuk ‘melawan’ kemarahan itu. Si Bunda sadar dengan hal tersebut sehingga berusaha mengobati luka masa kecil tersebut dan tidak melukai anak-anak. Namun, ternyata itu tidak semudah yang dipikirkan. Seringkali tantanganitu begitu kuat dan si Bunda kembali kalah dan tidak mampu mengendalikan kemarahan pada anakk. Sehingga yang tersisa seringkali hanya penyesalan.

Sebagai seorang ibu memang si Bunda harus terus belajar. Tidak hanya belajar bagaimana mendidik anak-anak tapi juga belajar bagaimana mendidik diri sendiri. Memiliki anak seperti membongkar luka-luka di masa lalu yang selama ini terpendam. Memiliki anak seperti membongkar batas limit emosi yang selama ini tidak tampak ke permukaan. Oleh karenanya, mungkin saat inilah, saat yang tepat bagi si Bunda untuk memaafkan semuanya, memaafkan luka yang pernah hadir di masa kanak-kanak, luka yang selama ini dianggap tidak ada ternyata masih ada dan mampu melukai anak-anak secara psikologis.

Lalu bagaimana cara mengendalikan emosi pada anak? Sudah banyak cara praktis untuk melakukannya di artikel lain. Namun, seringkali masih gagal karena luka masa lalu itu masih ada.Oleh karenanya, misi pertama si Bunda adalah memaafkan dan menyembuhkan luka tersebut sehingga tidak akan mampu melukai lagi. Harapannya lingkaran tersebut dapat terputus dan anak-anak pun bisa menjadi manusia seutuhnya.